Terkadang aku ingin membencimu, meninggalkanmu dan bersikap cuek denganmu. Ntah apa yang ada dipikiran ku. Mungkin pikiran dan perasaan ini juga kamu alami, aku sendiri tidak tahu. Tapi terkadang aku ingin selalu berada didekatmu, melihatmu, menyentuhmu itu yang ku mau. Karena aku selalu senang jika berada di dekatmu serasa terhibur dan berteman

Sepintas aku teringat masa-masa kedekatan persahabatan ini, Jalan, belanja, makan, masak, solat jama’ah dan berbagi cerita. Kedekatan pertemanan yang berujung memuji jiwa persahabatan. Sungguh indah.

Perbedaan karakter membuat suasana ini memanas. Berbagai kisah telah dilewati dengan harapan kita ikhlas melewatinya. Berawal dari sebuah moment yang katanya kamu menjahuiku untuk memberi surprise untukku. Entah apa yang ada dipikiranmu sehingga moment itu selalu melekat di hatiku. Melekat bukan karena indah tapi melekat karena menyakitkan. Dan berujung renggangnya persahabatan ini. Aku ikrarkan tak ada hal yang menyakitkan selain tindakanmu ini. Kamu yang mempunyai karakter selesai setelah berlalu menganggap ini biasa saja. Dan aku yang mempunyai karakter moment saveing dan cendderung sensitive selalu mengingatnya dan mengutuk kejadian itu untuk selamanya. Sungguh karakter yang sangat bertolak belaka.

Benar kata orang jangan terlalu dekat dan terlalu memiliki sesuatu, agar semuanya tidak berakhir dengan mengecewakan. Ketika aku terpuruk tak ada seorangpun mengetahuinya bahkan kamu yang aku anggap sebagai orang yang paling dekat sekalipun tak mampu membacanya, hingga aku teringat kata-kata guruku “ Kamu adalah diri kamu jangan menganggap orang lain mampu seperti apa yang pernah kamu lakukan untuknya “ kata-kata ini dalam dan menjadi moto bagiku setelah kejadian itu.

Sempat aku membencimu, namun ku teringat dan berkata “kenapa aku harus membencimu, memang siapa dia? pernahkah dia mengikrarkan/ memberi isyarat dan tanda-tanda kalau dia sahabatmu? Pernahkah kau pikirkan siapa dia? Dia hanya temanmu yang kamu kenal karena kamu satu kelas, dia hanya teman yang dekat denganmu karena dia satu kos denganmu. “ oh my god, bodohnya aku, akhirnya aku enjawab pertanyaan hatiku, dia adalah temanku/ betul! Dia adalah sahabatku? Ya betul? Apakah dia pernah meberi isyarat kalau kamu adalah sahabatmu? Ya ketika aku ultah dia mengatakannya, aku cukup tersanjung ketika aku membaca goresan tintanya “. Ternyata ikrar tak perlu yang terpenting adalah kebersamaan dan turut merasakan.

Ketika aku membencimu, hah lucu, untuk apa goersan tinta itu kalau aku sendiri dalam keramaian, bukankah sahabat ada ketika kita sedang down, nonsent. Perlahan aku tinggalkan moment itu dan mencoba melupakan setiap kejadian bersamamu selama ini. Aku yakin ini hanya kesalah pahaman ku membacamu untuk bersahabat denganmu.

Oh tuhan bisakah aku membenci dia..