Dalam setiap pertarungan, semua kontestan akan berjuang mati-matian untuk menang. Pastilah. Kalau tidak menang, buat apa mengeluarkan uang ratusan milyar dan menguras tenaga mempromosikan diri 24 jam nonstop.sby-jk-megawati
Tapi pertanyaan pamungkas pak Pratikno, Dekan Fisipol UGM yang dipercaya memandu acara semalam sungguh layak diajungi jempol. Dia bertanya kepada ketiga capres, apa yang akan dilakukan jika gagal dalam pemilu nanti?

Pertanyaan ini layak diapresiasi setinggi-tingginya karena dapat memberi gambaran lebih utuh integritas dan komitmen seorang capres. Apalagi pertanyaan ini diajukan secara spontan, sehingga jawabannya pasti bukan kalimat klise yang dipersiapkan sebelumnya. Apapun jawaban capres, itulah jati diri dan niatannya dalam memperebutkan kekuasaan mutlak atas asset negara dan kekayaan tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Saya ingat satu kalimat bijak yang intinya berbunyi, “Pilihlah pemimpin yang mampu memimpin, bukan yang mau memimpin. Karena semua orang pasti mau menjadi pemimpin, tapi belum tentu dia mampu memimpin.”

Saya tidak ingin mengulas dan menganalisis ataupun berkomentar atas jawaban-jawaban capres kita semalam. Saya hanya ingin menuliskannya kembali, mengabadikannya, dengan harapan para pemilih seperti saya mempunyai pegangan lain sebelum mencontreng nanti.

Kita sudah kenyang disuapi janji-janji, sekarang saatnya berfikir jernih, sambil mencermati jawaban para capres di bawah ini:

Megawati:
“Saya akan terus mengabdi untuk bangsa Indonesia.”

Susilo Bambang Yudhoyono:
“Saya akan mengucapkan selamat kepada yang menang dan saya akan mendukung siapa pun pemerintahan yang terpilih.”

Jusuf Kalla:
“Yang terbaik pasti menang. Saya akan menghormati yang terbaik, termasuk jika saya yang terbaik. Kalau bukan, saya akan pulang kampung untuk mengurus pendidikan dan mengelola masjid.”

Selamat memilih presiden untuk lima tahun ke depan.
sumber: iskandarjet.kompasiana.com/tag/sby/